Terungkap Dalam Persidangan, Saksi Akui Incar Lahan Eks HGU PTPN II Untuk Meraih  “Untung Besar”

Medan, SSOL, Terungkap dalam persidangan perkara terdakwa Tamin Sukardi , sebagaimana yang diakui  Mustika Akbar  yang merupakan Direktur Utama PT Erni   untuk mengincar lahan Eks HGU PTPN II. Karena melihat lahan itu sangat strategis dan menguntungkan sehingga berupaya untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat penggarap.

Ketika hal itu dipertanyakan majelis hakim yang dipimpin Wahyu Prasetyo Wibowo, Mustika Akbar yang sudah uzur itu mengakui, bahwa areal eks PTPN II itu sangat strategis untuk dijadikan perumahaan. Namun pihaknya tidak memiliki modal cukup untuk membangun secara keseluruhan, sehingga pihaknya sepakat untuk mengalihkan lahan yang sudah diganti rugi dengan masyarakat itu, kepada pengembang PT Agung Cemara Reality, terangnya dihadapan majelis hakim.

Sedangkan selaku Direktur Utama Mustika Akbar yang berasal dari kalangan akademik itu memberikan kuasa kepada terdakwa Tamin Sukardi dalam masalah keuangan. Sebab dalam perusahaan yang didirikannya sejak 1997 itu, sebagai pemegang saham adalah putra-putra terdakwa Tamin Sukardi sebanyak 3 orang.  Sedangkan terdakwa dalam perusahaan itu hanya duduk sebagai dewan penasehat.

“Saya tidak mengetahui bagaimana proses keuangan itu, yang sistem pembayarannya secara tunai dan bertahan hingga jumlahnya Rp 132 Milyar, kata saksi kepada majelis hakim dalam persidangan diruang Cakra I Pengadilan Negeri Tipikor Medan Senin (16/7/2018).

Sidang yang dimulai sejak pukul 14.00 Wib siang itu berlangsung cukup panjang hingga pukul 22.00 wib tengah malam. Namun siding sempat diskor  saat menjelang magrib selama 30 menit oleh majelis hakim.

Sementara itu, 3 saksi lainnya yang merupakan staf PT Erni mengakui ada memberikan uang kepada 65 orang  yang mengaku sebagai ahli waris dalam pengalihan asset Negara itu, hanya sekedar untuk uang tambahaan. “Saya  ada memberikan uang melaui Darsono untuk diberikan kepada 65 orng pak hakim, sebutnya. Pemberian itu berdasarkan kesepakatan saat menjelang lebaran saat itu jelasnya. Besarnya nilai uang itu,hanya berkisar Rp 200 ribu per orang terangnya lagi.

Sedangkan dua orang saksi lainnya legiman dan Tugimen membenarkan kalau persoalan lahan 106 Ha, itu sudah diselesaikan dengan masyarakat penggarap. Penyelesaian itu dengan cara ganti  rugi kepada masyarakat penggarap yang mengakui sebagai ahli waris dan memberikan kuasa ahli waris terangnya.

Pengalihan   Penahanan Terdakwa Karena Sakit

Terdakwa Tamin Sukardi, yang sempat terjatuh usai mengikuti persidangan 2 pekan lalu membuat kondisinya semakin lemah, sehingga terdakwa harus kembali kerumah sakit untuk menjaga kondisi kesehatannya. Sidang yang sempat ditunda  2 pekan lalu, Senin kemarin dilanjutkan kembali untuk pemeriksaan 4 orang saksi dari perusahaan  PT Erni.

Saksi yang terus dicecar  dengan sejumlah pertanyaan oleh majelsi hakim, jaksa dan penasehat hukum terdakwa. Sehingga waktu yang disediakan sejak pukul 14.00 Wib dan persidangan harus berakhir tengah malam itu membuat terdakwa kelelahan.

Informasi yang diperolah terdakwa usai sidang dibawa ke rumah sakit umum terdekat Elizabeth. Dan selanjutnya dirujuk kerumah sakit Colombia Asia, sebut sumber di Pengadilan Negeri Medan.

Jaksa Penutut Umum (JPU) yang dipimpin Salma, SH, MH itu telah menghadirkan lebih dari 40 orang saksi. Diantaranya saksi dari masyarakat penggarap yang mengaku sebagai ahli waris, saksi dari pihak PTPN II, saksi dari Notaris, dan juga saksi dari kepala desa setempat, termasuk mantan kepala desa saat terjadinya transaksi  jual beli lahan eks HGU PTPN II yang merupakan asset Negara tersebut.

Untuk mendengarkan keterangan-keterangan lainnya, siding yang dihadiri penasehat hukum terdakwa  yang diketuai Suhardi, SH,   dan JPU Salman dan kawan-kawan, ketua majelis hakim Wahyu Prasetio menunda siding sampai dengan Senin mendatang.

Rafli T