Tangkal hoax di Pemilu 2019 dengan tingkatkan literasi

BOGOR, SSOL– Pakar Komunikasi Universit BBas Djuanda, Agustina M Purnomo, mengatakan untuk mengetahui informasi yang ditemukan apakah hoax atau benar, menurutnya perlu adanya penyaringan dengan mencari sumber-sumber lain yang dapat dipercaya kebenarannya.

Hal itu menurutnya merupakan tanggung jawab semua pihak baik partai politik, Bawaslu, KPU dan juga masyarakat.

“Jadi kita semua jangan hanya membaca dari satu sumber saja, tetapi carilah dari berbagai sumber yang terpecaya untuk mengetahui apakah informasi yang kalian terima benar atau hoax, karena sekarang ini hoax atau kampanye hitam hampir sama,”ujar Agustina saat memberikan pemaparan pada dialog khusus bertema ‘Wujudkan Pemilu 2019 dengan Damai tanpa Hoax dan Sara di Bogor, Senin (25/2).

Dewasa ini, kata Agustina orang begitu mudahnya termakan bahkan menjadi pelaku penyebaran hoax pada Pilpres 2019. Dengan tujuan untuk menjatuhkan lawan.

“Kita liat beberapa waktu lalu adanya berita hoax soal isu tenaga kerja asing besar-besaran yang masuk ke Indonesia. Jelas ini dapat mengganggu. Dan sasaran empuknya yakni generasi milenial,”ujarnya.

Masih dilakatakan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Djuanda, bawa diprediksi penyebaran hoax dan ujaran kebencian akan terus bergulir hingga Pilpres 2019 selesai. Maka dari itu ia menyarankan agar semua pihak dapat meningkatkan literasi. Baik di WhatsApp, hastag atau media sosial lainnya.

Sementara itu Ketua Bawaslu Kota Bogor, Yustinus Elyas Mau menegaskan berita bohong atau hoax merupakan bentuk pidana yang sangat serius. Dan sudah menjadi kewajiban Bawaslu dalam mencegah mengawasi tidak hanya hoax tetapi persoalan-persoalan sekitar Pemilu 2019.

“Sangat jelas sekali hoax itu adalah tindak pidana termasuk juga ujaran kebencian . Apalagi jika dengan tujuan menyerang pribadi-pribadi,” ujarnya.
Dijelaskan Yustinus hoax saat ini tersebar disegala lini jidak tidak dilakukan pencegahan dini, terlebih di media sosial,” tambah Yustinus.

Diketahui dalam Pemilu kali ini, terutama pada Pilpres 2019 menjadi panggung pemilih milenial menunjukkan signifikansinya dalam politik elektoral Indonesia. Dimana mereka akan diuji, apakah preferensi politiknya sesuai dengan idealisme atau terjebak dalam kungkungan pragmatisme.

Sebab proporsi mereka yang cukup besar, sekitar 40% dari seluruh pemilih di Indonesia merupakan  lahan menggiurkan bagi kandidat untuk menarik simpati dan mendulang suara.
[]

Editor: Rakisa