Sosial Ekonomi Bisa Jadi Pemicu Berkembangnya Gerakan Radikal

MAJALENGKA- SSOL – Munculnya gerakan radikalisme diduga bukan hanya persoalan mengubah ideologi negara, tetapi juga muncul karena permasalahan kesenjangan ekonomi, sosial dan ketidakadilan di masyarakat.

“Yang paling kental faktor atau penyebab dari gerakan radikalisme itu adalah soal ekonomi kemudian yang kedua sosial serta penegakan supremasi hukum yang timpang,” kata Alan Barok Ulumudin, aktivis Pemuda Muhammadiyah dalam diskusi khusus di Majalengka, Jawa Barat, Rabu (21/8/19).

Alan menilai, gerakan yang sudah dibubarkan seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bukan tidak mungkin ideologi mereka masih berkembang dan tertanam di masyarkat.

Karenanya, menurut Alan, faktor kesejahteraan dan keadilan harus benar-benar dihadirkan pemerintah dalam rangka menangkal gerakan-gerakan radikal ini.

“Ini artinya meski pun organisasi dibubarkan akan tetapi ideologi tetap berkembang. Sehingga ketika organisasi tanpa rumah saya kira harus diwaspadai,” imbuh Alan mewanti-wanti.

Kemudian, lanjut Alan, peran semua stake holder, pemangku kebijakan, pemuka agama, ulama, elite-elite harus hadir ke tengah masyarakat untuk terus menerus menanamkan dan membumikan nilai-nilai Pancasila. Dan, memberi pemahaman yang benar mengenai negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah. Darul Ahdi, artinya negara tempat kita melakukan konsensus nasional.

“Negara kita berdiri karena para pendiri bangsa sepakat bahwa seluruh kemajemukan bangsa, golongan, daerah, kekuatan politik, sepakat untuk mendirikan Indonesia,” tandasnya.

Rakisa