Penyaluran Bantuan Dinilai Melenceng, Kantor Desa Sei Apung Disegel Warga 

Kisaran, SSOL.Com- Lantaran penyaluran bantuan kepada  masyarakat dinilai melenceng alias salah sasaran,puluhan warga Desa Sei Apung, Kecamatan Tanjung Balai,Kabupaten Asahan,menyegel kantor kepala desa setempat pada Jumat (22/05).

Aksi ini dilakukan karena mereka kecewa terhadap penyaluran bantuan pandemi COVID-19 yang dianggap tidak tepat sasaran.Masyarakat Desa Sei Apung merasa kecewa atas kinerja kepala desanya Solahuddin.

Warga desa  menilai kades masih menerapkan pola nepotisme dalam menyalurkan bantuan Pandemi COVID-19.Contohnya,salah seorang  Kaur Desa tercatat sebagai penerima bantuan dan seorang warga lainnya  yang istrinya merupakan PNS malah terdata sebagai penerima bantuan.

Aksi unjuk rasa yang  terjadi secara spontan ini dilakukan di Balai Desa Sei Apung, Jl. Bandar Jawa, yang berujung dengan penyegelan kantor Balai Desa.Aksi penyegelan terjadi setelah warga berorasi beberapa jam, namun kepala desa tidak kunjung hadir.

Masyarakat mengatakan bahwa Solahuddin jarang masuk kantor dan dia selalu menyelesaikan pekerjaan desa di rumahnya

Nenek Aisyah salah seorang yang turut berunjukrasa  kepada wartawan mengaku bahwa dirinya selama ini juga tidak pernah menerima bantuan selain rumah bedah, padahal dirinya sudah renta sementara warga lain yang lebih mampu malah menerima bantuan.

Arif Irfan, orator aksi mengatakan, “aksi digelar karena kekecewaan terhadap kepala desa, yang terkesan tidak peduli dengan penderitaan rakyat nya, dengan menyalurkan bantuan tidak tepat sasaran seperti BST dari Pemerintah sehingga kaur desa menerima, keluarga PNS menerima sementara warga yang lebih susah dan terdampak pandemi tidak menerima”.

Lebih dua jam berorasi, warga meminta penjelasan dari kades, namun sang kades  tidak kunjung datang.Padahal kala itu masih jam dinas namun hanya satu orang yang ada di kantor desa. Karena dinilai tidak difungsikan maka warga  menyegel Balai Desa papar Irfan kepada wartawan.

Selang beberapa waktu setelah aksi, seorang warga yang bernama Debi mengaku telah ditelfon oleh sang kepala desa dengan nada tinggi karena ia ikut aksi padahal dirinya sudah di upayakan masuk sebagai penerima BST.

Debi menyebutkan dirinya ditelfon kepala desa lalu kades marah kepadanya, karena dia ikut aksi, padahal katanya saya sudah diupayakan masuk dalam daftar penerima BST.Debi menjawab bahwa aksinya bukan untuk memerjuangkan hak diri sendiri melainkan untuk memperjuangkan hak warga-lain yang seharusnya layak mendapatkan bantuan.

Rusli E Sitorus