Patuan Kumala Suangkupon Bagas Godang Muara Tais, Porkas Dalimunte apresiasi lagu ciptaan Kapolda Sumut

 

Tapsel, SSOL- Syair lagu ciptaan Kapolda Sumut, Irjen Pol Paulus Waterpau berjudul Kami Indonesia, Kami Anti Hoax yang dinyanyikan Kapolres Tapanuli Selatan (Tapsel), AKBP M Iqbal bersama jajarannya, menggelorakan semangat para masyarakat Tapsel dalam memerangi pemberitaan hoax. Terbukti, Senin (16/8/2018) malam, Raja Bagas Godang Muara Tais, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel, Porkas Dalimunthe siap mendukung untuk menjaga keutuhan NKRI.

“Kita siap mendukung untuk menjaga keutuhan NKRI. Karena, NKRI merupakan harga mati,” ungkapnya.

Dikatakannya, saat ini para tokoh masyarakat, tokoh adat, dan alim ulama yang ada di Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memerangi pemberitaan hoax dan ujaran kebencian. Dimana, kepada para orang tua mereka menyarankan supaya tidak membelikan anaknya yang masih belasan tahun kebawah ponsel android.

“Pasalnya, dari ponsel tersebut bisa saja anak-anak kita dengan mudah mendapatkan informasi yang kurang jelas asal usulnya,” ungkap lelaki paru baya yang memiliki gelar Patuan Kumala Suankopong Bagas Godang Muara Tais.

Kemudian, lelaki yang berusia 76 tahun ini mengatakan, dirinya sangat menyayangkan atas beredarnya ujaran-ujaran kebencian, dan pemberitaan hoax yang kian hari kian memrihatinkan. Sebab, menurutnya hal tersebut bisa berdampak buruk bagi kesatuan NKRI. Dimana, hal itu dapat memecah belah Indonesia yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan mengorbankan nyawa mereka.

“Sebagai warga Negara Indonesia kita harus terus menghormati perjuangan dan pengorbanan pahlawan dalam menyatukan nusantara ini. Cara yang kita lakukan saat ini adalah terus menjaga keutuhan NKRI,” tegasnya.

Tokoh adat Batang Angkola ini juga sangat menyayangkan adanya penistaan agama yang saat ini beredar ditengah masyarakat. Karena menurutnya kerukunan umat beragama di Indonesia adalah hal yang dianggap wajar. Sebab, dalam adat perbedaan agama tersebut tidaklah menjadi persoalan karena semuanya dalam ada dianggap sama.

“Contohnya saja di Kecamatan Batang Angkola yang terdiri dari 33 desa, tidak semua masyarakatnya satu agama melainkan berbagai agama. Tapi kerukunan agama di adat itu tetap menyatu. Karena itu, kami sebagai warga Muara Tais sangat tidak setuju dengan adanya ujaran-ujaran kebencian, berita hoax dan penistaan agama,” pungkasnya.

Ahmad Mubin