Moeldoko pastikan pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir batal

Pengasuh pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB). FOTO:IST

JAKARTA, SSOL– Rencana pembebasan bersyarat pengasuh pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB) yang tengah menjalani masa pidana kasus terorisme dipastikan batal dilaksanakan.

Pasalnya, ulama sepuh tersebut tetap pada pendiriannya enggan untuk mengikrarkan kesetiaannya terhadap NKRI dan Pancasila. Praktis hal tersebut mengurungkan niat pemerintah untuk membebaskannya.

Kepala Staf Presiden, Moeldoko yang menyatakan permintaan pembebasan bersyarat atas Abu Bakar Ba’asyir tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah.

Ustadz Abu Bakar Baasyir dianggap tidak dapat memenuhi syarat formil sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan lebih lanjut didetailkan dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 3 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang dan Cuti Bersyarat.

“Iya (tidak dibebaskan). Karena persyaratan itu tidak boleh dinegosiasikan. Harus dilaksanakan,” ujar Moeldoko di Istana Negara, Selasa (22/1) kepada wartawan.

Menurut Moeldoko, Syarat formil bagi narapidana perkara terorisme, yakni pertama, bersedia bekerjasama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya.

Kedua, telah menjalani paling sedikit dua per tiga masa pidana, dengan ketentuan dua per tiga masa pidana tersebut paling sedikit 9 bulan.

Ketiga, telah menjalani asimilasi paling sedikit setengah dari sisa masa pidana yang wajib dijalani. Terakhir, menunjukkan kesadaran dan penyesalan atas kesalahan yang menyebabkan pemohon dijatuhi pidana dan menyatakan ikrar kesetiaan pada NKRI secara tertulis.

Presiden Jokowi, tambah Moeldoko sebenarnya menyambut baik permohonan Ba’asyir. Sebab, kondisi kesehatan Ba’asyir yang kini sudah berusia 81 tahun terus menurun sehingga membutuhkan perawatan yang khusus.

“Dari sisi kemanusiaan, Presiden sangat memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Namun ya Presiden juga memperhatikan prinsip-prinsip bernegara yang tidak dapat dikurangi dan tidak dapat dinegosiasikan,” ujar Moeldoko.

Meski demikian, Moeldoko memastikan bahwa akses Ba’asyir terhadap fasilitas kesehatan tidak akan berubah.

Sebelumnya rencana pembebasan bersyarat pengasuh pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB) disampaikan kuasa hukum pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra saat mengunjungi ulama sepuh tersebut di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jumat (18/1). Namun pernyataan Yusril kemudian menuai kontroversi.[]

Editor : Rakisa