Masjid Syeikh  Zainal Abidin Harahap Tertua di Tabagsel

 

PADANGSIDIMPUAN, SSOL-Berdasarkan Investigasi Penulis buku “MELACAK JEJAK HIDUP SYEIK ZAINAL ABIDIN HARAHAP (Ulama Sufi Terkemuka di Tapanuli Selatan), DR.Zainal Efendi Hasibuan bersama suarasumutonline.com mendapatkan informasi , bahwa Masjid SYEIKH ZAINAL ABIDIN HARAHAP yang berlokasi di desa Pudun Julu Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan – Sumatera Utara termasuk Tertua di Tapanuli Bagian Selatan (Tapanuli Selatan sebelum pemekaran).

Kronologis berdirinya Masjid tersebut dari infomasi penelusuran team, Sekitar tahun 1745 M, seorang anak yang gagah terlahir di Lobu Si Pudun, yang bernama Baginda Maludin I bin Sutan Maujalo I. Ia terdidik dengan budaya adat Batak yang diyakini orang setempat sebagai falsafah hidup dalam kehidupan bermasyarakat. Sesuai dengan sunnatullah pemuda ini tumbuh menjadi seorang pria yang gagah perkasa, ia belajar pada h alam lingkungannya di bawah bimbingan Sutan Maujalo I Pudun. Kehidupan bercocok tanam yang menjadi mata pencaharian utama di lobu Si Pudun, ia tekuni dan sangat rajin dalam membantu orantua.

Ketika ia telah dewasa, ia menikah dengan seorang tambatan hatinya. saat itu ia berusia sekitar 21 tahun, yakni sekitar tahun 1761. Tidak lama kemudian sekitar tahun 1763, dari hasil pernikahannya terlahirlah anaknya bernama Sutan Maujalo II Pudun Julu yang menjadi ayah Syekh Zainal Abidin

Zainal Abidin Harahap adalah seorang yang menonjol di bidang agama. Sejak kecil bakat ulama itu telah terlihat pada dirinya, diketahui dari sikapnya yang jujur, rajin melaksanakan ibadah, patuh terhadap orang tua, dan sopan kepada siapapun yang berbicara dengannya.

Menurut penuturan Oppung Mangaraja Halus Harahap (usia 75 Tahun) kepada Parmohonan Harahap (bercerita pada tahun 1990), bahwa Syeikh Zainal Abidin pulang kampung berusia sekitar 40 tahun. Dalam hal ini, berarti ia merantau selama 25 tahun. Waktu yang cukup lama, dalam memantapkan ilmu dan mengabdikan diri di kampung mertuanya, Banten. Dengan demikian, ia kembali ke kampung halaman sekitar tahun 1850 M.

Dijelaskan Agus Daulay salah imam masjid bercerita bahwa pada tahun 2012 ada orang yang datang dari daerah Limbong Pijorkoling yang sudah berumur 80 tahun ke Masjid Syeikh Zainal Abidin Harahap. Kedatangannya diutus ayahnya yang saat itu berusia 125 tahun, ingin menjelaskan riwayat Syeikh Zainal Abidin Harahap yang merupakan guru dari ayahnya sendiri. Kalau dihitung, 125 tahun ditambah 30 tahun usia ayah dari si kekak ini berarti 138 tahun. Tahun 2016 – 158 tahun = 1858 M. Dengan demikian, pada tahun 1858 M sudah ada murid Syeikh Zainal Abidin Harahap di Pudun Julu.
Jadi, sejak tahun 1850 M beliau telah menjadi ulama dan guru tasawuf di Pudun Julu. dan dapat diperkirakan bahwa lama di banten 7 tahun + lama perjalanan pergi dan pulang Banten Makkah 3 Tahun, ditambah dengan lama di Kota Makkah 15 Tahun, berjumlah 25 tahun di perantauan, dan sampai ke Tapanuli Selatan berusia sekitar 40 tahun. Demikianlah perkiraan yang dapat digambarkan berdasarkan kesimpulan informasi yang diterima penulis dan suarasumutonline.com dari berbagai sumber.

Saat pertama wartawan suarasumutonline.com ini sendiri saat berkunjung ke Masjid SYEIKH ZAINAL ABIDIN HARAHAP sekitar tahun 2010 , di atas pintu masuk masjid tertulis “Tata Kala Baginda Maludin menjadi Raja di Pudun Julu didirikanlah masjid Anno: 1901.”

Tulisan ini masih tertulis pada awal Maret 2016. Berdasarkan tulisan tersebut, maka secara umum orang menyakini bahwa tahun wafatnya Syeikh Zainal Abidin pada tahun 1901.
Banyak orang yang menduga bahwa tahun berdirinya masjid itu pada tahun 1901. Pengurus pun mengahapus tulisan yang terdapat di atas pintu tersebut, sampai muncul kesepakatan berdasarkan riset mendalam tentang tahun berdirinya masjid Syeikh Zainal Abidin.

DR.Zainal Efendi Hasibuan selaku Penulis “MELACAK JEJAK HIDUP SYEIKZAINAL ABIDIN HARAHAP ” kepada suarasumutonline.com mengatakan, “ di dalam buku Armyn Hasibuan dalam tesisnya, “Tarekat Naqsabandiyah Syeikh Abdul manan Siregar di Padangsidimpuan: Studi Ajaran, Sosialisasi dan Kaderisasi,” memperoleh informasi bahwa usia Syeikh Zainal Abidin berumur 92 tahun. Menurut Armyn, ia lahir sekitar tahun 1809. Sementara menurut Erawadi dalam jurnal Pusat-pusat Perkembangan tarekat Naqsabandiyah di Tapanuli Bagian selatan.” Syeikh Zainal, lahir pada tahun 1811, dengan perhitungan tahun meninggalnya, 1321 H dikonversi menjadi 1903 (1 Muharram 1321 Hijriah jatuh pada tanggal 30 maret 1903) dikurangi 92 tahun usianya, sehingga menjadi 1811. Kemudian menurut Parmohonan Harahap, bahwa usia Syekh Zainal Abidin adalah diperkirakan 93 tahun, karena itu dapat ditetapkan bahwa ia lahir tahun 1810, dan wafatnya tahun 1321 H dikonversi menjadi 1903 M ” ujarnya.

Hingga kini masjid tertua di Tapanuli Bagian Selatan Syeikh Zainal Abidin Harahap, di Desa Pudun Julu Padangsidimpuan masih berdiri kokoh dan ramai dikunjungi masyarakat, baik yang beribadah, istirahat maupun berziarah berziarah ke makam Syeikh Zainal Abidin Harahap yang berjarak sekitar 400 meter dari komplek masjid yang memiliki corak arsitektur lama seperti masjid di Banten ini.
Di samping jamaah yang datang dari sekitar Kota Padang Sidimpuan, bahkan dari Banten dan Pulau Jawa banyak yang berdatangan ke Masjid Syeiokh Zainal Abidin. Sejumlah pejabat, anggota DPRD, pengusaha, banyak yang datang untuk beribadah salat dan berzikir. Demikian juga dari kalangan santri, ustazd dari berbagai pesantren berdatangan untuk berziarah ke Makam Syeikh Zainal Abidin dan melaksanakan shalat di Masjid Syeikh Zainal Abidin. Umumnya setiap orang yang datang ke Masjid merasakan kesejukan dan ketenangan dalam beribadah. Berbagai latar belakang orang berdatangan, baik yang memiliki masalah keluarga, masalah pekerjaan, masalah politik, masalah batin, mereka menumpahkan berbagai persoalan tersebut seraya berdoa kepada Allah SWT, mudah-mudahan di berikan kemudahan.

Ahmad Mubin Lubis