Abdurrahim Ba’asyir: Tak ada yang lebih setia dan cinta Indonesia selain ayah

enasehat hukum paslon Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra mengunjungi narapidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, Jumat (18/1).FOTO: Dok Yusril Ihza Mahendra

JAKARTA, SSOL– Rencana pembebasan bersyarat pengasuh pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ustadz Abu Bakar Baasyir (ABB) yang tengah menjalani masa pidana kasus terorisme nampaknya terbentur soal ikrar kesetiaan ulama sepuh tersebut terhadap NKRI dan Pancasila.

Menanggapi hal tersebut, putra Ustadz Abu Bakar Baasyir, Abdurrahim menegaskan bahwa tidak ada yang lebih setia dan cinta kepada Indonesia selain ayahnya.

“Jika kita melihat di media lokal Indonesia, tampak ramai mengangkat tentang Ustadz tidak mau menandatangani soal kesetiaan NKRI dan sebagainya. Kalau soal setia kepada negara Indonesia, saya yakin tidak ada yang lebih setia dan lebih cinta kepada Indonesia ini daripada seorang Ustadz Abu Bakar Baasyir,” tegas Abdurrahim seperti dilansir Kiblat.net, Senin (21/1).

Dikatakannya, mengapa ayahnya disebut yang paling cinta Indonesia, Abdurrahim menerangkan bahwa kebaikan untuk negeri ini terjadi apabila rakyat taat kepada syariat Allah.

“Apabila negeri ini, bangsa ini tunduk kepada kehendak Allah dan aturan yang Allah tentukan untuk umat manusia, maka negeri ini mencapai kedamaiannya, akan mencapai baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Itulah yang beliau (ABB) suarakan. Dan ini bukan sehari dua hari, ini sejak tahun 1970 bahkan, dan beliau keluar masuk penjara terkait masalah ini,”ucapnya.

Lanjutnya, kecintaan ayahnya terhadap Indonesia tidak perlu dipertanyakan, bahkan tidak perlu tanda tangan. Bahkan menyebut mereka yang memaksa untuk menandatangani syarat itu belum tentu lebih cinta kepada negara dibandingkan dengan Ustadz ABB.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan rencana pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir masih harus melewati beberapa tahapan mekanisme hukum.

Jokowi mengatakan rencana pembebasan narapidana kasus terorisme tersebut memang mempertimbangkan kondisi kesehatan yang bersangkutan.

“Kita sampaikan secara kemanusiaan [alasan pembebasan]. Tetapi kita ini juga ada sistem hukum, ada mekanisme hukum yang harus kita lalui. Ini namanya pembebasan bersyarat, bukan pembebasan murni,” katanya di Istana Merdeka, Selasa (22/1).

Untuk mendapatkan pembebasan bersyarat, dia mengakui ada beberapa syarat yang harus dipenuhi misalkan pernyataan untuk setia pada Pancasila, setia pada NKRI, bersedia bekerja sama dengan penegak hukum, telah menjalani minimal 2/3 masa pidana, dan telah menjalani masa asimilasi 1/2 dari masa pidana yang dijalani.

“Ini kan ada mekanisme hukum yang harus kita tempuh. Masa kita tabrak? kan enggak bisa. Apalagi ini sesuatu yang basic, setia NKRI, setia Pancasila, itu basic sekali,” tegas Jokowi. []

Editor: Rakisa