Terkait Dugaan Penipuan Jual-Beli Lahan Oknun Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Medan Akan “Dipolisikan”

Medan, SSOL- Terkait dugaan penipuan dalam kasus jual beli lahan senilai Rp 2 Milyar  oknum Panitera Pengganti (PP) Pengadilan Negeri Kalas IA   Medan berinsial JS (56) akan dilaporkan ke Mapoldasu oleh korban Lamhot A Simamora.

Namun sebelum yang bersangkutan dilaporkan kita meminta terlebih dahulu kepada ketua Pengadilan Negeri kelas IA Medan untuk mempasilitasi atau sebagai mediasi dalam kasus yang merugikan korban sebesar Rp 1,5 Milyar itu. Hal ini disampaikan korban Lamhot A Simamora kepada wartawan, diruang  kerjanya kantor perusahaan elektronik Jl Asrama Pondok Kelapa Medan, Selasa (17/07/2018).

Menurut Lamhot A Simamora bahwa peristiwa itu, sebagaimana yang dialaminya dalam jual beli lahan tersebut telah dibayarkannya sebesar Rp 1,5 Milyar. Namun lahan itu sampai saat ini tidak dapat dikuasainya.

Lamhot yang menyampaikan persoalan itu secara kronologis apa yang telah dialaminya sejak 7 bulan yang silam, terangnya. Untuk itu, secara  kronologis kita sampaikan  sebutnya.

Lebih lanjut Lamhot menceritakan, berawal dari transaksi jual beli sebidang tanah yang terletak di kecamatan Medan Selayang tepatnya di depat kantor Camat kecamatan Medan Selayang sekira tanggal 15 Desember 2017 yang lalu.

Saya Lamhot A Simamora, membeli sebidang tanah kepada JS. Tanah yang dibeli tersebut senilai Rp 2 milyar. Kemudian dilakukan pembenahan dan penyusunan surat-surat sebagai persyaratan sahnya jual beli. Oleh saya dan JS.

Selanjutnya surat diperiksa, dan bahkan surat silang sengketa yang dikeluarkan kepala Desa juga telah disiapkan oleh yang bersangkutan untuk dibawa ke notaris yang berkantor di Jl. T. Amir Hamzah.

Kemudian, JS   yang  mengaku sebagai pemilik tanah sepakat untuk melakukan transaksi jual-beli dengan saya. Kemudian setelah surat di notariskan melalui kantor Notaris tersebut, saya Lamhot A Simamora menyetorkan uang sebesar Rp 1,5 milyar kepada JS   sebagaimana yang disepakat sebesar Rp 2 Milyar.

Karena pada saat itu tidak dapatnya, menstransfer uang tersebut sekaligus sebesar Rp 2 Milyar, maka saya tunda sebesar Rp 500 juta. Sehingga sah surat-surat yang dimaksud berpindah tangan kepada saya, dan saya telah mengambil tanah tersebut, sebagaimana dengan kelengkapan surat-surat yang dibuat dihadapan notaris.

Namun tiga hari kemudian, saya memasuki lokasi tanah/lahan tersebut untuk dilakukan pengerjaan memasang plank dan sekaligus akan memagar tanah/lahan tersebut, karena  telah memiliki tanah tersebut secara hukum.

Ternyata pada saat saya melakukan pemagaran dan memasang plank, muncul sejumlah orang yang mengatakan bahwa tanah tersebut milik Kol. P Ginting, serta menunjukan surat-surat bukti kepemilikan.  Sehingga saya dan pekerja diusir dari lokasi agar segera meninggalkan lokasi tersebut.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka saya dengan pekerja saya lainnya pergi meninggalkan lokasi, agar tidak terjadi benturan fisik.

Namun saya tetap berupaya untuk melakukan mediasi dengan orang yang mengaku sebagai pemilik tanah tersebut, serta memanggil JS   yang telah menjual tanah tersebut kepada saya.

Beliau (JS) berjanji akan menyelesaikan hal itu, akan tetapi hingga saat ini tidak ada kejelasan dan bahkan semakin pudar persoalan itu dibawa diam oleh JS. Bahkan berulang kali saya menghubungi beliau tidak serius beliau menanggapi persoalan itu.

Saya juga meminta klarifikasi kepada  kepala desa yang saat pengeluaran surat oleh An. Kol. P Ginting itu dikeluarkan. Namun kepala desa tersebut membantah, bahwa dirinya tidak ada mengeluarkan surat-surat  sebagaimana yang ditunjukan oleh pihak Kol. P Ginting.

Bahkan mantan kepala desa tersebut juga mengadukan kepada pihak yang berwajib, akan tetapi hingga saat ini  belum ada proses hukum.

Kemudian kita juga akan menyampaikan tembusan surat itu kepada yang bersangkutan dan ketua Mahkamah Agung RI di Jakarta, Menteri Hukum dan HAM Bapak Yasona Laoly di Jakarta terangnya yang nantinya dapat memberikan jalan keluar atas kerugian yang sudah saya alami terang Lamhot lagi

Rafli T