Kepentingan Asing di Papua Harus Beririsan dengan Masyarakat Lokal

JAKARTA, SSOL– Meski intensitas konflik dan kerusuhan di Papua sudah mulai menurun akan tetapi dari sisi psikologis terutama korban harus mendapatkan perhatian serius Pemerintah.

Demikian disampaikan Analis Keamanan dan Konsultan Keamanan, Alto Labetubun dalam dialog khusus ‘Campur Tangan Asing Dibalik Rusuh dan Separatis di Papua, di kawasan Gajahmada, Jakarta Pusat, Kamis (24/10/2019).

Menurut pria yang malang melintang  disejumlah konflik Indonesia dan Timur Tengah ini bahwa campur tangan asing atau negara lain adalah sebuah hal wajar dalam dunia global dilihat dari dua sisi, pertama soal interest dan kedua involvement. Tentunya asing punya kepentingan di Papua.

“Mereka punya investasi di Papua ada Freeport, BP, Newmont, PetroChina, belum lagi perusahaan sawit dan lain lain, jadi investor itu ingin stabilitas. Jadi soal kepentingan asing tentu ada,” kata Alto.

Kemudian lanjutnya soal involvement khsususnya terhadap kasus yang terjadi terakhir ini  terjadi, segala kemungkinan itu ada. Meski tidak langsung seperti orang beli senjata digembor-gemborkan. Harus dibuktikan oleh aparat kepolisian dan Intelijen.

“Tetapi kemudian ada negara-negara yang memberikan please heaven, wadah dimana kelompok yang ingin menyuarakan kemerdekaan Papua diberi ruang untuk berbicara dalam konteks kebebasan berpendapat.

Jika ditarik kebelakang memang grevance dari orang Papua masih belum sepenuhnya didengar sejak 1960 yang difasilitasi oleh PBB. Dan grevance tersebut sampai saat ini belum terselesaikan.

Dengan demikian ada potensi, luka-luka  belum terselesaikan yang dimanfaatkan pihak lain untuk kepentingan lainnya.

Inggar Saputra, peneliti Politik INSURE menambahkan belum selesainya yang  terjadi di Papua adalah narasi-narasi yang dibangun menjadi kepentingan sehingga aktor-aktor yang berada dibaliknya belum terungkap.

“Banyak faktor sebenarnya bisa dari kepentingan asing, kesenjangan sosial ekonomi. Dan juga ada orang orang yang memanfaatkan itu menjadi isu dan gejolak sehingga akhirnya terjadi konflik,” kata Inggar.

Menurut Magister Ketahanan Nasional UI ini menambahkan keterlibatan asing di Papua dalam investasi siapa yang lebih diuntungkan. Belum lagi kepentingan masing-masing negara di Papua misalnya Amerika.

“Semestinya kepentingan itu beririsan dengan masyarakat Papua dan Indonesia juga. Jangan sampai kepentingan negara lain lebih dominan sementara kepentingan negara sendiri terabaikan,” tegasnya. []

Comments

comments