Ini Bedanya Kratscoin dengan Bitcoin

SuaraSumutOnline, Medan | Saat ini semua teknologi blockchain yang ada dikembangkan dari Bitcoin Core, sebuah peranti lunak blockchain Bitcoin yang kodenya open source.

Pada awalnya dirancang oleh Satoshi Nakamoto dan dikembangkan banyak orang, yang selanjutnya disebut dengan bitcoin developer. Dengan Bitcoin Core siapapun dapat membuat blockchain sendiri yang berbeda dengan Bitcoin, dan menambahkan fitur lain di dalamnya.

Misalnya memperbesar ukuran blok, mengubah nama coin, hingga jumlah coin yang bisa ditambang per blok yang muncul. Sebelumnya, ini pernah dilakukan Bitcoin Cash dan Bitcoin Gold melalui proses hard fork.

Jordan Baczuk, Lead Developer di Burstware dalam artikelnya menyebutkan, software Bitcoin Core adalah hasil pengembangan ratusan programmer selama kurang lebih satu dekade.

“Bitcoin Core terdiri atas kode-kode untuk mengoptimalkan jaringan desentralistik, pengukuran atas pencegahan terjadinya Denial of Service (DoS), termasuk pemantapan sinkronisasi data transaksi. Bitcoin Core juga berlisensi MIT. Artinya kita semua dapat menggunakan kode di dalamnya secara cuma-cuma,” kata Baczuk dalam keterangannya, Rabu (25/9/2019).

Sebenarnya, ada sejumlah pengembangan blockchain lain yang asasnya berasal dari Bitcoin Core, baik yang sangat terbuka ataupun “senafas dan sejiwa” dengan metode Satoshi Nakamoto, yakni pseudonim.

Adalah Kratscoin (KTC) bermain di arena itu dengan “menambal” kekurangan Bitcoin yang tidak memiliki “nomor seri” untuk setiap unitnya BTC-nya.

Karena Bitcoin tidak memiliki nomor seri selayaknya uang kertas, maka setiap unit Bitcoin sesungguhnya “tidak unik” dalam sudut pandang sistem keuangan fiat.

Sebaliknya dengan sistem uang elektronik peer-to-peer yang memiliki nomor seri sepanjang 12 digit untuk setiap unitnya, dapat dengan mudah dilacak oleh pihak berwenang.

Dan Kratscoin (KTC) disebut ingin bermain di arena itu dan disebut sebagai sebuah keunggulan, karena lebih mudah membantu, misalnya pemerintah untuk melacak alur transaksinya.

Antara KTC dengan BTC banyak kesamaan, mulai proses penambangan dengan ASIC miner standar (ASIC Miner S9 atau T9).

Suplai maksimal yang hanya 21 juta unit, 1 blok muncul per 10 menit dan 144 KTC per 24 jam, termasuk halving per 210.000 blok.

Berdasarkan data dari KTC Explorer, per 24 September, blok blockchain KTC sudah mencapai #41,063 dengan miner reward sebesar 50 KTC per 10 menit. Block Genesis (#0) muncul pada 18 Desember 2018. Dengan demikian belum terjadi reward halving.

Selain memiliki nomor seri, perbedaan lain KTC dengan BTC adalah jumlah pecahan terkecil unitnya. Kalau BTC memiliki 0,00000001, maka KTC hanya 0,0001.

“Penyederhanan ini dimaksudkan agar memudahkan penghitungan nilai tukar (kurs) dalam perdagangan valuta asing. Misalnya Jika 1 unit KTC bernilai US$10.000, maka unit terkecil dari KTC adalah 0,0001 yang nilainya setara dengan US$1,” pungkasnya. [***]

Comments

comments