HUT GMKI ke – 58 “Mencari Figur Pemimpin Yang Ideal Jelang Pesta Demokrasi Tahun 2020”

SIANTAR – SIMALUNGUN.SSOL.COM- Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Pematangsiantar-Simalungun menggelar perayaan ulangtahun (Dies Natalis) yang ke – 70 secara Nasional dan ke 58 se-Cabang Pematangsiantar-Simalungun, Minggu, 09 Pebruari 2020  di (Depan) Student Center GMKI Pematangsiantar-Simalungun, Komp. Griya, Jalan Asahan No.6, Kec. Siantar, Simalungun.

Dalam keterangan tertulis Ketua Panitia Siska Siburian, acara perayaan tersebut diawali dengan Dialog Publik yang mengusung topik “Mencari Figur Pemimpin yang Ideal Jelang Pesta Demokrasi 2020”. “Sebagai pembicara Ketua Bawaslu Pematangsiantar, M. Syafi’i Siregar, Komisioner KPU Sumut, Batara Manurung, tokoh muda Hotmatua “Citho” Silalahi, dan Pengamat Kristian Silitonga.” kata Siska.

Lanjut Siska, dalam dialog Publik tersebut Pembicara pertama M. Syafi’i Siregar mengungkapkan bahwa cara menentukan figur ideal untuk memimpin siantar adalah sangat sederhana. “Bagi kami (Bawaslu) figur yang taat regulasi, dan patuh terhadap aturan mainlah yang ideal.” ujar Syafi’i

Ia menilai dalam realita politik saat ini khususnya di Siantar-Simalungun yang masih rawan money politik atau istilah “cair” perlunya figur calon yang berani untuk tidak terlibat money politik sehingga menghasilkan pendidikan politik yang baik untuk masyarakat, serta pemilu yang berkualitas.

“Dalam kesempatan ini juga saya mengajak semua pihak untuk kita kerjasama mengawal dan mengawasi proses pilkada ini mulai awal sampai akhir khususnya pengawasan peluang praktik politik transaksional di masyarakat.” ajak Siregar.

Sementara dalam paparan pembicara kedua, Batara Manurung, menjelaskan bahwa penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu) tidak memiliki ruang seleksi untuk menentukan figur yang ideal, melainkan hanya mempunyai ruang kriteria sesuai peraturan guna menentukan laik-tidaknya seseorang untuk bertarung dalam pilkada.

“Ruang kriteria itu seperti syarat administratif, jadi kami (KPU) tidak dapat menilai atau menentukan melainkan menyerahkan secar seluas-luasnya kepada masyarakat untuk dapat menentukan sendiri figurnya.” ujar Manurung.

Manurung menilai bahwa dengan prinsip Luberjurdil maka masyarakat diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk menemukan figur ideal dari calon yang ada, namun dalam menemukan figur tersebut masyarakat juga membutuhkan rekomendasi-rekomendasi dari kajian-kajian berbagai pihak untuk menambah refrensi masyarakat dalam memilih.

“Kenali rekam jejak calon yang ada, zaman saat ini cukup kenali melalui Google, selain itu ini juga himbauan kepada pihak Universitas, mahasiswa dan lainnya untuk berani menguji gagasan para calon dengan hasil kajian-kajian yang dilakukan kampus.” tantang Manurung.

Sementara itu tokoh muda, Hotmatua Silalahi sebagai pembicara ketiga dalam pandangannya mengemukakan bahwa sangatlah sulit menemukan figur ideal bila merujuk dengan calon yang tersedia, dalam hal ini calon yang diusung oleh parpol, namun Hotma juga berpendapat dengan ketersediaan calon yang ada nantinya paling tidak masyarakat dapat berperan untuk menyehatkan pesta demokrasi dari praktik politik uang.

“Jadi bagaimanapun calon yang ada nantinya paling tidak kita dapat mengawasi supaya calon tersebut patuh regulasi dan aturan main.” ujar Hotmatua.

Penggiat UKM ini juga menilai bahwa Organisasi massa seperti GMKI atau Cipayung Plus dapat menjadi penyelenggara ketiga selain KPU dan Bawaslu untuk mengawasi jalannya proses pemilu yang sesuai aturan main demi terciptanya pilkada yang berkualitas.

“Jadi kita harus kawal paling tidak supaya kita jangan membiarkan yang buruk menang, artinya kita harus ikut mengawasi agar politik uang itu dipersempit celanya.” ujar Hotmatua.

Sedangkan pembicara terakhir, Kristian Silitonga berpendapat bahwa figur ideal pemimpin adalah orang yang paham betul persoalan Pematangsiantar-Simalungun.

“Jadi bukan soal moralitas, atau religiulitas karena kita bukan sedang memilih ratu adil atau rohaniawan tapi yang terpenting dia punya kualitas untum mengatasi persoalan dikota ini.” ujar Krsitian.

Kristian menilai dengan sistem politik saat ini dimana masyarakat tidak dilibatkan secara partisipatif untuk menentukan figur calon menjadikan pemilih hanya memilih dari apa yang dihasilkan oligarki ataupun partai politik.

“Jadi bukan mencari figur pemimpin melainkan mempersiapkan figur pemilih yang ideal, karena dengan pemilih yang ideal dan cerdas maka akan menghasilkan pilihan yang cerdas pula.” ujar Kristian.

Dialog yang dimoderatori Kabid Organisasi BPC GMKI Pematangsiantar-Simalungun, Juwita Panjaitan ini dirangkai dengan sarasehan tanya jawab yang cukup memantik pendapat dari beberapa audiens (peserta) diskusi. Terlihat Anggota DPRD Pematangsiantar Astronout Nainggolan, Senior Members GMKI dr. Sarmedi Purba dan David Marpaung turut menyampaikan pendapatnya untuk menambah warna dalam diskusi.

Diakhir dialog, tak lupa juga panitia menyerahkan cinderamata kepada keempat pembicara. Acara juga dilanjutkan dengan perayaan puncak dies natalis dengan pemotongan kue oleh Ketua GMKI Pematangsiantar-Simalungun, May Luther Dewanto Sinaga didampingi Sekretaris Izah Sari Marito Sihombing serta diakhiri dengan pesta Gondang Naposo.

Tampak hadir pula dalam acara Wakil Walikota Pematangsiantar, Togar Sitorus, Anggota DPRD Pematanngsiantar Astronout Nainggolan dan para senior members GMKI yakni Komisioner KPU Sumut Batara Manurung, Rektor USI Dr. Corry, Dr Sarmedi Purba, Pdt Saut H Sirait, Kasipidsus kejaksaan Siantar Dostom Hutabarat, dan para senior members lainnya, serta para Kader GMKI Pematangsiantar-Simalungun, dan ratusan undangan lainnya.

Efendi Naibaho

Comments

comments